Darah Juang
di sini negeri kami
tempat padi terhampar luas
samuderanya kaya raya
tanah kami subur, Tuhan.
di negeri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka
anak kurus tak sekolah
pemuda desa tak kerja
mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar
Bunda,relakan darah juang kami
‘tuk membebaskan rakyat
padamu kami berjanji
padamu kami berbakti
‘tuk membebaskan rakyat
Leon Trotsky (1928)
Revolusi Permanen
X. Apakah Revolusi Permanen? Postulat-postulat Dasar
Saya harap pembaca tidak akan keberatan jika, pada akhir buku ini, saya berupaya, tanpa takut akan berulang-ulang, memformulasikan secara singkat dan langsung kesimpulan-kesimpulan utama saya.
-
Saat ini, teori Revolusi Permanen membutuhkan perhatian
yang besar dari setiap kaum Marxis, karena perjalanan perjuangan
klas dan ideologi telah sepenuhnya dan pada akhirnya membangkitkan
kembali masalah ini dari masa lalu, dan merubahnya menjadi sebuah
masalah mengenai karakter, hubungan internal dan metode revolusi
internasional secara umum.
-
Berkaitan dengan negeri-negeri yang perkembangan borjuisnya
terlambat, terutama sekali di negeri-negeri kolonial dan semi
kolonial, teori Revolusi Permanen menunjukkan bahwa solusi utuh
dan sejati dari tugas-tugas mereka untuk mencapai demokrasi dan emansipasi nasional
hanya dapat dicapai melalui kediktatoran proletariat sebagai pemimpin
bangsa yang tertindas, terutama sebagai pemimpin semua massa kaum
tani bangsa tersebut.
-
Tidak hanya masalah agraria, namun juga masalah kebangsaan
memberikan kaum tani – yang merupakan mayoritas besar dari
populasi di negeri-negeri terbelakang – sebuah posisi yang luar
biasa dalam revolusi demokratik. Tanpa aliansi antara buruh dan kaum
tani, tugas-tugas revolusi demokratik tidak dapat diselesaikan,
atau bahkan dimajukan secara serius. Namun aliansi kedua klas
tersebut hanya dapat diwujudkan melalui perjuangan terus-menerus
melawan pengaruh borjuis nasional-liberal.
-
Apapun tahapan pertama episode revolusi yang terjadi dalam
tiap-tiap negeri, pencapaian aliansi revolusioner antara kaum
proletar dan kaum tani hanya dapat terjadi di bawah kepemimpinan
politik dari kaum pelopor proletariat, yang terorganisir di dalam
Partai Komunis. Ini berarti bahwa kemenangan revolusi demokratik
hanya dapat dicapai melalui kediktatoran proletariat yang
mendasarkan dirinya atas aliansi dengan kaum tani dan pertama-tama
menuntaskan tugas-tugas revolusi demokratik.
-
Dibuktikan oleh sejarah, slogan lama Bolshevisme –
‘kediktatoran demokratik proletar dan kaum tani’ – mengekspresikan
secara tepat hubungan yang telah dikarakterisasikan di atas
antara kaum proletar, tani dan borjuis liberal. Ini telah
dikonfirmasikan oleh pengalaman Revolusi Oktober. Namun formula lama
Lenin tidak menjawab pertanyaan mengenai bagaimana hubungan timbal
balik antara kaum proletar dan kaum tani di dalam blok
revolusioner. Dengan kata lain, formula tersebut secara sengaja
memiliki sebuah karakter aljabar, yang akan memberikan
jawaban-jawaban aritmetika yang lebih detil di dalam proses
pengalaman sejarah. Bagaimanapun juga, pengalaman sejarah menunjukkan,
dan di bawah kondisi yang menyingkirkan semua kesalahan
interpetrasi, bahwa bagaimanapun besarnya peran revolusioner kaum
tani, mereka tidak dapat memiliki peran yang independen atau
bahkan peran memimpin. Kaum tani mengikuti kaum pekerja atau kaum
borjuis. Hal ini berarti bahwa ‘kediktatoran demokratik kaum
proletar dan kaum tani’ hanya dapat dipahami sebagai sebuah kediktatoran proletariat yang memimpin massa kaum tani di belakangnya.
-
Sebuah kediktatoran proletariat dan kaum tani, sebagai
sebuah rejim yang berbeda dari kediktatoran proletariat dalam isi
klasnya, hanya dapat tercapai jika sebuah partai revolusioner yang
independen dapat dibentuk, yang mengekspresikan
kepentingan kaum tani dan secara umum kepentingan demokrasi
borjuis kecil – sebuah partai yang mampu menaklukkan kekuasaan
dengan bantuan dari proletariat dan mampu menentukan program-program
revolusionernya. Seperti yang telah ditegaskan oleh sejarah modern –
terutama pengalaman Rusia dalam dua puluh lima tahun terakhir –
satu halangan yang tidak mungkin ditaklukkan dalam jalan
pembentukan partai kaum tani adalah ketiadaan independensi ekonomi
dan politik dari kelas borjuis kecil serta perbedaan internal
mereka yang sangat dalam. Dengan alasan ini, lapisan atas kelas
borjuis kecil (dan kaum tani) mendukung kaum borjuis besar dalam
semua kasus-kasus yang menentukan, terutama sekali dalam perang
dan revolusi; lapisan bawah berjalan bersama proletariat; lapisan
tengah dengan demikan akan dipaksa memilih di antara kedua kutub
ekstrim tersebut. Antara Kerenskyisme dan kekuasaan Bolshevik,
antara Kuomintang dan kediktatoran proletariat, tidak ada dan tidak
mungkin ada tahapan perantara, dalam kata lain, tidak ada kediktatoran
demokratik buruh dan kaum tani.
-
Usaha keras Komintern untuk memaksakan slogan kediktatoran
demokratik proletar dan kaum tani kepada negeri-negeri Timur, yang
sejak dahulu telah dipatahkan oleh sejarah, hanya dapat
menghasilkan sebuah efek reaksioner. Selama slogan tersebut
dipertentangkan dengan slogan kediktatoran proletariat, maka secara
politik ini akan mendorong peleburan kaum proletar ke dalam massa
borjuis kecil dan dengan demikian menciptakan kondisi yang
menguntungkan bagi hegemoni kaum borjuis nasional dan pada
akhirnya bagi keruntuhan revolusi demokratik. Introduksi slogan
tersebut ke dalam program Komintern adalah pengkhianatan langsung
terhadap Marxisme dan tradisi Revolusi Oktober dari Bolshevisme.
-
Kediktaktoran proletariat yang telah naik ke tampuk
kekuasaan sebagai pemimpin revolusi demokratik secara tak
terelakkan dan dengan segera dihadapkan pada tugas-tugas, yang
pemenuhannya terikat sangat dalam dengan hak kepemilikan pribadi
borjuis. Revolusi demokratik berkembang secara langsung menjadi
revolusi sosialis dan oleh karena itu menjadi sebuah revolusi permanen.
-
Penaklukan kekuasaan oleh proletariat belum menyelesaikan
revolusi, namun hanya membukanya. Pembangunan sosialis hanya dapat
dicapai di atas pondasi perjuangan klas, dalam skala nasional dan
internasional. Perjuangan ini, di bawah kondisi dominasi besar dari
hubungan kapitalis di dunia, secara tak terelakkan mengakibatkan
ledakan-ledakan, yaitu, secara internal perang sipil dan secara
eksternal perang revolusioner. Disinilah letak karakter permanen
dari revolusi sosialis, tidak peduli apakah negara yang terlibat
adalah negara terbelakang, yang baru saja mencapai revolusi
demokratik, atau sebuah negara kapitalis tua yang telah memiliki
periode demokrasi dan parlementerisme yang panjang.
-
Penuntasan revolusi sosialis di dalam batasan nasional
sangat tidak dapat dibayangkan. Salah satu alasan dasar dari
krisis masyarakat borjuis adalah kenyataan bahwa kekuatan-kekuatan
produksi yang diciptakan olehnya tidak dapat lagi didamaikan dengan
kerangka negara nasional. Dari sini muncul di satu sisi perang-perang
imperialis, di sisi yang lainnya utopia Uni Eropa borjuis.
Revolusi sosialis dimulai di dalam arena nasional, kemudian
menyebar dalam arena internasional, dan diselesaikan dalam arena
dunia. Dengan demikian, revolusi sosialis menjadi sebuah revolusi
permanen dalam makna yang lebih baru dan luas; dia mencapai
penuntasan, hanya dalam kemenangan akhir masyarakat baru di
seluruh planet kita.
-
Garis besar di atas yang menggambarkan perkembangan
revolusi dunia menghilangkan persoalan mengenai negeri-negeri yang
“matang” atau “belum matang” untuk sosialisme yang dipaparkan
oleh Komintern saat ini dengan semangat klasifikasi yang akademik dan
kaku. Selama kapitalisme sudah menciptakan sebuah pasar dunia,
sebuah pembagian kerja skala dunia dan kekuatan-kekuatan produksi
skala dunia, dia juga telah menyiapkan ekonomi dunia secara
keseluruhan untuk transformasi sosialis.
Tiap-tiap negeri yang berbeda akan melalui proses tersebut dalam tempo yang berbeda. Negeri-negeri terbelakang dapat, dalam kondisi tertentu, tiba pada kediktatoran proletariat lebih cepat dibandingkan negeri-negeri maju, namun mereka akan tiba pada sosialisme terakhir ketimbang negeri-negeri maju.
Sebuah negeri terbelakang kolonial atau semi kolonial, dimana kaum proletarnya belum cukup siap untuk menyatukan kaum tani dan mengambil kekuasaan, oleh karena itu negeri tersebut tidak mampu membawa revolusi demokratik hingga tuntas. Sebaliknya, di sebuah negeri dimana kaum proletar memiliki kekuasaan di tangannya sebagai hasil dari revolusi demokratik, nasib berikutnya dari kediktatoran dan sosialisme di negeri tersebut, pada analisa yang terakhir, tergantung bukan pada kekuatan produksi nasional tetapi pada perkembangan revolusi sosialis internasional.
- Teori sosialisme di satu negara, yang muncul pada puncak
reaksi melawan Revolusi Oktober, adalah satu-satunya teori yang
secara konsisten dan hingga akhir bertentangan dengan teori
revolusi permanen.
Usaha para epigone, di bawah cambukan kritik kita, untuk membatasi penerapan teori sosialisme di satu negara secara eksklusif pada Rusia, karena karakter-karakter uniknya (luasnya wilayah dan sumber daya alamnya), tidak memperbaiki masalah ini namun hanya membuatnya semakin buruk. Perpecahan dengan posisi internasionalis selalu menghasilkan messianisme nasional, yaitu, memberikan atribut superioritas dan kualitas khusus kepada negerinya sendiri, yang kemudian memungkinkannya untuk memainkan sebuah peran yang tidak dapat dilakukan oleh negeri-negeri lainnya.
Pembagian kerja skala dunia, ketergantungan industri Soviet terhadap teknologi asing, ketergantungan kekuatan produksi negeri-negeri maju di Eropa terhadap bahan mentah dari Asia, dsb, membuat pembangunan sebuah masyarakat sosialis yang independen di satu negara manapun di dunia mustahil.
- Teori Stalin dan Bukharin, yang bertentangan dengan
keseluruhan pengalaman revolusi Rusia, tidak hanya menegakkan
secara mekanik revolusi demokratik yang bertentangan dengan
revolusi sosialis, namun juga membuat sebuah jurang antara revolusi
nasional dan revolusi internasional. Teori tersebut menekankan pada
revolusi-revolusi di negeri-negeri terbelakang tugas mendirikan sebuah
rejim kediktatoran demokratik yang tidak dapat tercapai, yang
bertentangan dengan kediktatoran proletariat. Oleh karena itu teori ini
memasukkan ilusi dan fiksi ke dalam politik, melumpuhkan perjuangan
untuk kekuasaan dari kaum proletar di Timur, dan menghambat kemenangan
revolusi kolonial.
Dari sudut pandang teori milik epigone, perebutan kekuasaan oleh proletariat menandakan penuntasan revolusi (“90% tuntas”, menurut formula Stalin) dan permulaan masa reformasi nasional. Teori pertumbuhan kulak ke dalam sosialisme dan teori “netralisasi” dunia borjuis tidak dapat dipisahkan dari teori sosialisme di satu negara. Mereka berdiri atau jatuh bersama-sama.
Dengan teori sosialisme nasional, Komunis Internasional diturunkan fungsinya menjadi sekadar sebuah senjata sekunder yang berguna hanya untuk perjuangan melawan intervensi militer. Kebijakan Komintern saat ini, rejimnya, dan pilihan pemimpin-pemimpin utamanya berhubungan sepenuhnya dengan transformasi Komunis Internasional sebagai sebuah unit sekunder yang tidak dibentuk untuk memecahkan tugas-tugas independen. -
Program Komintern yang diformulasikan oleh Bukharin adalah
sepenuhnya ekletik. Program tersebut membuat usaha yang sia-sia
untuk merekonsiliasikan teori sosialisme di satu negara dengan
internasionalisme Marxis, yang bagaimanapun juga tidak dapat
dipisahkan dari karakter permanen revolusi dunia. Perjuangan kelompok
Oposisi Kiri Komunis untuk sebuah kebijakan yang tepat dan sebuah
rejim yang sehat di Komunis Internasional tidak dapat dipisahkan
dari perjuangan untuk program Marxis. Permasalahan mengenai
program tidak dapat dipisahkan dari permasalahan mengenai dua
teori yang secara mutual eksklusif: teori revolusi permanen dan
teori sosialisme di satu negara. Persoalan revolusi permanen sudah
sejak dulu tumbuh melebihi perbedaan pendapat antara Lenin dan
Trotsky, yang sepenuhnya sudah dijawab oleh sejarah. Perjuangannya
adalah antara ide-ide dasar Marx dan Lenin di satu sisi dengan
eklektisme dari kaum sentris di sisi lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
