Leon Trotsky (1928)

Revolusi Permanen


X. Apakah Revolusi Permanen? Postulat-postulat Dasar


Saya harap pembaca tidak akan keberatan jika, pada akhir buku ini, saya berupaya, tanpa takut akan berulang-ulang, memformulasikan secara singkat dan langsung kesimpulan-kesimpulan utama saya.
  1. Saat ini, teori Revolusi Permanen membutuhkan perhatian yang besar dari setiap kaum Marxis, karena perjalanan perjuangan klas dan ideologi telah sepenuhnya dan pada akhirnya membangkitkan kembali masalah ini dari masa lalu, dan merubahnya menjadi sebuah masalah mengenai karakter, hubungan internal dan metode revolusi internasional secara umum.
  2. Berkaitan dengan negeri-negeri yang perkembangan borjuisnya terlambat, terutama sekali di negeri-negeri kolonial dan semi kolonial, teori Revolusi Permanen menunjukkan bahwa solusi utuh dan sejati dari tugas-tugas mereka untuk mencapai demokrasi dan emansipasi nasional hanya dapat dicapai melalui kediktatoran proletariat sebagai pemimpin bangsa yang tertindas, terutama sebagai pemimpin semua massa kaum tani bangsa tersebut.
  3. Tidak hanya masalah agraria, namun juga masalah kebangsaan memberikan kaum tani – yang merupakan mayoritas besar dari populasi di negeri-negeri terbelakang – sebuah posisi yang luar biasa dalam revolusi demokratik. Tanpa aliansi antara buruh dan kaum tani, tugas-tugas revolusi demokratik tidak dapat diselesaikan, atau bahkan dimajukan secara serius. Namun aliansi kedua klas tersebut hanya dapat diwujudkan melalui perjuangan terus-menerus melawan pengaruh borjuis nasional-liberal.
  4. Apapun tahapan pertama episode revolusi yang terjadi dalam tiap-tiap negeri, pencapaian aliansi revolusioner antara kaum proletar dan kaum tani hanya dapat terjadi di bawah kepemimpinan politik dari kaum pelopor proletariat, yang terorganisir di dalam Partai Komunis. Ini berarti bahwa kemenangan revolusi demokratik hanya dapat dicapai melalui kediktatoran proletariat yang mendasarkan dirinya atas aliansi dengan kaum tani dan pertama-tama menuntaskan tugas-tugas revolusi demokratik.
  5. Dibuktikan oleh sejarah, slogan lama Bolshevisme – ‘kediktatoran demokratik proletar dan kaum tani’ – mengekspresikan secara tepat hubungan yang telah dikarakterisasikan di atas antara kaum proletar, tani dan borjuis liberal. Ini telah dikonfirmasikan oleh pengalaman Revolusi Oktober. Namun formula lama Lenin tidak menjawab pertanyaan mengenai bagaimana hubungan timbal balik antara kaum proletar dan kaum tani di dalam blok revolusioner. Dengan kata lain, formula tersebut secara sengaja memiliki sebuah karakter aljabar, yang akan memberikan jawaban-jawaban aritmetika yang lebih detil di dalam proses pengalaman sejarah. Bagaimanapun juga, pengalaman sejarah menunjukkan, dan di bawah kondisi yang menyingkirkan semua kesalahan interpetrasi, bahwa bagaimanapun besarnya peran revolusioner kaum tani, mereka tidak dapat memiliki peran yang independen atau bahkan peran memimpin. Kaum tani mengikuti kaum pekerja atau kaum borjuis. Hal ini berarti bahwa ‘kediktatoran demokratik kaum proletar dan kaum tani’ hanya dapat dipahami sebagai sebuah kediktatoran proletariat yang memimpin massa kaum tani di belakangnya.
  6. Sebuah kediktatoran proletariat dan kaum tani, sebagai sebuah rejim yang berbeda dari kediktatoran proletariat dalam isi klasnya, hanya dapat tercapai jika sebuah partai revolusioner yang independen dapat dibentuk, yang mengekspresikan kepentingan kaum tani dan secara umum kepentingan demokrasi borjuis kecil – sebuah partai yang mampu menaklukkan kekuasaan dengan bantuan dari proletariat dan mampu menentukan program-program revolusionernya. Seperti yang telah ditegaskan oleh sejarah modern – terutama pengalaman Rusia dalam dua puluh lima tahun terakhir – satu halangan yang tidak mungkin ditaklukkan dalam jalan pembentukan partai kaum tani adalah ketiadaan independensi ekonomi dan politik dari kelas borjuis kecil serta perbedaan internal mereka yang sangat dalam. Dengan alasan ini, lapisan atas kelas borjuis kecil (dan kaum tani) mendukung kaum borjuis besar dalam semua kasus-kasus yang menentukan, terutama sekali dalam perang dan revolusi; lapisan bawah berjalan bersama proletariat; lapisan tengah dengan demikan akan dipaksa memilih di antara kedua kutub ekstrim tersebut. Antara Kerenskyisme dan kekuasaan Bolshevik, antara Kuomintang dan kediktatoran proletariat, tidak ada dan tidak mungkin ada tahapan perantara, dalam kata lain, tidak ada kediktatoran demokratik buruh dan kaum tani.
  7. Usaha keras Komintern untuk memaksakan slogan kediktatoran demokratik proletar dan kaum tani kepada negeri-negeri Timur, yang sejak dahulu telah dipatahkan oleh sejarah, hanya dapat menghasilkan sebuah efek reaksioner. Selama slogan tersebut dipertentangkan dengan slogan kediktatoran proletariat, maka secara politik ini akan mendorong peleburan kaum proletar ke dalam massa borjuis kecil dan dengan demikian menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi hegemoni kaum borjuis nasional dan pada akhirnya bagi keruntuhan revolusi demokratik. Introduksi slogan tersebut ke dalam program Komintern adalah pengkhianatan langsung terhadap Marxisme dan tradisi Revolusi Oktober dari Bolshevisme.
  8. Kediktaktoran proletariat yang telah naik ke tampuk kekuasaan sebagai pemimpin revolusi demokratik secara tak terelakkan dan dengan segera dihadapkan pada tugas-tugas, yang pemenuhannya terikat sangat dalam dengan hak kepemilikan pribadi borjuis. Revolusi demokratik berkembang secara langsung menjadi revolusi sosialis dan oleh karena itu menjadi sebuah revolusi permanen.
  9. Penaklukan kekuasaan oleh proletariat belum menyelesaikan revolusi, namun hanya membukanya. Pembangunan sosialis hanya dapat dicapai di atas pondasi perjuangan klas, dalam skala nasional dan internasional. Perjuangan ini, di bawah kondisi dominasi besar dari hubungan kapitalis di dunia, secara tak terelakkan mengakibatkan ledakan-ledakan, yaitu, secara internal perang sipil dan secara eksternal perang revolusioner. Disinilah letak karakter permanen dari revolusi sosialis, tidak peduli apakah negara yang terlibat adalah negara terbelakang, yang baru saja mencapai revolusi demokratik, atau sebuah negara kapitalis tua yang telah memiliki periode demokrasi dan parlementerisme yang panjang.
  10. Penuntasan revolusi sosialis di dalam batasan nasional sangat tidak dapat dibayangkan. Salah satu alasan dasar dari krisis masyarakat borjuis adalah kenyataan bahwa kekuatan-kekuatan produksi yang diciptakan olehnya tidak dapat lagi didamaikan dengan kerangka negara nasional. Dari sini muncul di satu sisi perang-perang imperialis, di sisi yang lainnya utopia Uni Eropa borjuis. Revolusi sosialis dimulai di dalam arena nasional, kemudian menyebar dalam arena internasional, dan diselesaikan dalam arena dunia. Dengan demikian, revolusi sosialis menjadi sebuah revolusi permanen dalam makna yang lebih baru dan luas; dia mencapai penuntasan, hanya dalam kemenangan akhir masyarakat baru di seluruh planet kita.
  11. Garis besar di atas yang menggambarkan perkembangan revolusi dunia menghilangkan persoalan mengenai negeri-negeri yang “matang” atau “belum matang” untuk sosialisme yang dipaparkan oleh Komintern saat ini dengan semangat klasifikasi yang akademik dan kaku. Selama kapitalisme sudah menciptakan sebuah pasar dunia, sebuah pembagian kerja skala dunia dan kekuatan-kekuatan produksi skala dunia, dia juga telah menyiapkan ekonomi dunia secara keseluruhan untuk transformasi sosialis.
    Tiap-tiap negeri yang berbeda akan melalui proses tersebut dalam tempo yang berbeda. Negeri-negeri terbelakang dapat, dalam kondisi tertentu, tiba pada kediktatoran proletariat lebih cepat dibandingkan negeri-negeri maju, namun mereka akan tiba pada sosialisme terakhir ketimbang negeri-negeri maju.
    Sebuah negeri terbelakang kolonial atau semi kolonial, dimana kaum proletarnya belum cukup siap untuk menyatukan kaum tani dan mengambil kekuasaan, oleh karena itu negeri tersebut tidak mampu membawa revolusi demokratik hingga tuntas. Sebaliknya, di sebuah negeri dimana kaum proletar memiliki kekuasaan di tangannya sebagai hasil dari revolusi demokratik, nasib berikutnya dari kediktatoran dan sosialisme di negeri tersebut, pada analisa yang terakhir, tergantung bukan pada kekuatan produksi nasional tetapi pada perkembangan revolusi sosialis internasional.
  12. Teori sosialisme di satu negara, yang muncul pada puncak reaksi melawan Revolusi Oktober, adalah satu-satunya teori yang secara konsisten dan hingga akhir bertentangan dengan teori revolusi permanen.
    Usaha para epigone, di bawah cambukan kritik kita, untuk membatasi penerapan teori sosialisme di satu negara secara eksklusif pada Rusia, karena karakter-karakter uniknya (luasnya wilayah dan sumber daya alamnya), tidak memperbaiki masalah ini namun hanya membuatnya semakin buruk. Perpecahan dengan posisi internasionalis selalu menghasilkan messianisme nasional, yaitu, memberikan atribut superioritas dan kualitas khusus kepada negerinya sendiri, yang kemudian memungkinkannya untuk memainkan sebuah peran yang tidak dapat dilakukan oleh negeri-negeri lainnya.
    Pembagian kerja skala dunia, ketergantungan industri Soviet terhadap teknologi asing, ketergantungan kekuatan produksi negeri-negeri maju di Eropa terhadap bahan mentah dari Asia, dsb, membuat pembangunan sebuah masyarakat sosialis yang independen di satu negara manapun di dunia mustahil.
  13. Teori Stalin dan Bukharin, yang bertentangan dengan keseluruhan pengalaman revolusi Rusia, tidak hanya menegakkan secara mekanik revolusi demokratik yang bertentangan dengan revolusi sosialis, namun juga membuat sebuah jurang antara revolusi nasional dan revolusi internasional. Teori tersebut menekankan pada revolusi-revolusi di negeri-negeri terbelakang tugas mendirikan sebuah rejim kediktatoran demokratik yang tidak dapat tercapai, yang bertentangan dengan kediktatoran proletariat. Oleh karena itu teori ini memasukkan ilusi dan fiksi ke dalam politik, melumpuhkan perjuangan untuk kekuasaan dari kaum proletar di Timur, dan menghambat kemenangan revolusi kolonial.
    Dari sudut pandang teori milik epigone, perebutan kekuasaan oleh proletariat menandakan penuntasan revolusi (“90% tuntas”, menurut formula Stalin) dan permulaan masa reformasi nasional. Teori pertumbuhan kulak ke dalam sosialisme dan teori “netralisasi” dunia borjuis tidak dapat dipisahkan dari teori sosialisme di satu negara. Mereka berdiri atau jatuh bersama-sama.
    Dengan teori sosialisme nasional, Komunis Internasional diturunkan fungsinya menjadi sekadar sebuah senjata sekunder yang berguna hanya untuk perjuangan melawan intervensi militer. Kebijakan Komintern saat ini, rejimnya, dan pilihan pemimpin-pemimpin utamanya berhubungan sepenuhnya dengan transformasi Komunis Internasional sebagai sebuah unit sekunder yang tidak dibentuk untuk memecahkan tugas-tugas independen.
  14. Program Komintern yang diformulasikan oleh Bukharin adalah sepenuhnya ekletik. Program tersebut membuat usaha yang sia-sia untuk merekonsiliasikan teori sosialisme di satu negara dengan internasionalisme Marxis, yang bagaimanapun juga tidak dapat dipisahkan dari karakter permanen revolusi dunia. Perjuangan kelompok Oposisi Kiri Komunis untuk sebuah kebijakan yang tepat dan sebuah rejim yang sehat di Komunis Internasional tidak dapat dipisahkan dari perjuangan untuk program Marxis. Permasalahan mengenai program tidak dapat dipisahkan dari permasalahan mengenai dua teori yang secara mutual eksklusif: teori revolusi permanen dan teori sosialisme di satu negara. Persoalan revolusi permanen sudah sejak dulu tumbuh melebihi perbedaan pendapat antara Lenin dan Trotsky, yang sepenuhnya sudah dijawab oleh sejarah. Perjuangannya adalah antara ide-ide dasar Marx dan Lenin di satu sisi dengan eklektisme dari kaum sentris di sisi lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar